Penyakit Tidak Menular Makin Mengkhawatirkan, Ini Faktor Risikonya

Jakarta – Penyakit tidak menular (PTM) kini menjadi salah satu persoalan kesehatan yang tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah orang lanjut usia. Penyakit seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, dan kanker dapat berkembang perlahan selama bertahun-tahun, bahkan tanpa menimbulkan keluhan yang terasa serius pada tahap awal.
Persoalannya, banyak faktor yang meningkatkan risikonya justru berasal dari kebiasaan sehari-hari.
Pola makan yang buruk, kurang aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol, obesitas, hingga tekanan darah dan gula darah yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.
Yang membuatnya berbahaya, seseorang bisa merasa sehat sementara proses penyakit sudah berlangsung di dalam tubuh.
Merasa Sehat Tidak Berarti Bebas Penyakit
Hipertensi merupakan salah satu contoh paling jelas.
Tekanan darah tinggi sering tidak menimbulkan gejala yang spesifik. Seseorang dapat menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa tanpa menyadari tekanan darahnya berada di atas batas normal.
Karena itu, pemeriksaan menjadi penting. Mengandalkan kondisi tubuh semata tidak cukup untuk mengetahui apakah tekanan darah seseorang berada dalam kondisi aman.
Hal serupa berlaku pada gula darah. Diabetes tipe 2 dapat berkembang secara bertahap dan gejalanya pada awalnya bisa tidak terlalu terasa.
Ketika seseorang baru memeriksakan diri setelah muncul berbagai keluhan, kondisi tersebut mungkin sudah berlangsung cukup lama.
Pola Makan Menjadi Salah Satu Persoalan
Makanan yang dikonsumsi setiap hari berperan besar dalam kesehatan jangka panjang.
Konsumsi berlebihan makanan tinggi gula, garam dan lemak, ditambah rendahnya konsumsi buah, sayuran, serta sumber serat, dapat membuat pola makan menjadi tidak seimbang.
Masalahnya bukan satu kali makan makanan manis atau berminyak.
Yang lebih perlu diperhatikan adalah ketika pilihan tersebut menjadi kebiasaan harian.
Minuman berpemanis, makanan cepat saji, camilan tinggi kalori dan makanan ultra-proses dapat dengan mudah masuk ke dalam pola makan tanpa disadari.
Jika berlangsung terus-menerus dan tidak diimbangi aktivitas fisik yang cukup, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan dan berbagai faktor risiko metabolik.
Terlalu Banyak Duduk, Terlalu Sedikit Bergerak
Kemajuan teknologi membuat banyak aktivitas menjadi lebih mudah. Namun, kenyamanan tersebut juga membuat manusia semakin sedikit bergerak.
Bekerja di depan komputer, berkendara, menonton televisi, bermain gawai, hingga bekerja dari rumah dapat membuat seseorang menghabiskan sebagian besar waktunya dalam posisi duduk.
Kurangnya aktivitas fisik berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit tidak menular.
Karena itu, olahraga tidak seharusnya hanya dilakukan ketika seseorang ingin menurunkan berat badan.
Aktivitas fisik merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Rokok Tetap Menjadi Faktor Risiko Besar
Merokok merupakan salah satu faktor risiko penting berbagai penyakit kronis.
Paparan asap rokok berkaitan dengan penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit paru, serta berbagai jenis kanker.
Masalahnya, risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan jumlah rokok yang dihisap hari ini. Dampaknya merupakan akumulasi paparan dalam jangka panjang.
Karena itu, berhenti merokok tetap memberikan manfaat bagi kesehatan, meskipun seseorang sudah memiliki riwayat merokok selama bertahun-tahun.
Berat Badan Berlebih Bukan Sekadar Masalah Penampilan
Obesitas sering kali dibicarakan dari sisi penampilan. Padahal, persoalannya jauh lebih besar.
Kelebihan berat badan dan obesitas dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk diabetes tipe 2, penyakit jantung, stroke, serta beberapa jenis kanker.
Yang perlu diperhatikan bukan sekadar angka pada timbangan, tetapi juga pola makan, aktivitas fisik, lingkar perut, tekanan darah, kadar gula darah, serta faktor kesehatan lainnya.
Menurunkan berat badan secara sehat bukan sekadar mengejar bentuk tubuh, tetapi bagian dari upaya mengurangi risiko kesehatan.
Usia Muda Bukan Alasan untuk Mengabaikannya
Salah satu anggapan yang perlu ditinggalkan adalah penyakit kronis hanya perlu dipikirkan ketika seseorang sudah tua.
Faktor risiko dapat terbentuk jauh sebelum penyakit terdiagnosis.
Kebiasaan merokok, pola makan tidak sehat, kurang bergerak, tidur yang buruk, serta berat badan berlebih dapat berlangsung selama bertahun-tahun.
Semakin lama kebiasaan tersebut dipertahankan, semakin penting pula melakukan evaluasi terhadap kondisi kesehatan.
Itulah sebabnya pemeriksaan kesehatan tidak seharusnya dilakukan hanya ketika tubuh sudah memberikan keluhan.
Pemeriksaan Sederhana Bisa Menjadi Alarm
Beberapa pemeriksaan dasar dapat memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan seseorang.
Tekanan darah, berat badan, lingkar perut, kadar gula darah dan profil lemak darah merupakan sejumlah parameter yang dapat digunakan untuk menilai faktor risiko tertentu.
Hasil pemeriksaan yang tidak normal tidak selalu berarti seseorang sudah menderita penyakit tertentu. Namun, hasil tersebut dapat menjadi peringatan untuk melakukan perubahan pola hidup atau menjalani pemeriksaan lanjutan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Semakin dini faktor risiko diketahui, semakin besar kesempatan untuk melakukan intervensi sebelum masalah berkembang lebih jauh.
Penyakitnya Tidak Menular, Risikonya Bisa Menular Lewat Kebiasaan
Penyakit tidak menular memang tidak berpindah dari satu orang ke orang lain seperti penyakit infeksi.
Namun, kebiasaan yang meningkatkan risikonya dapat terbentuk dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
Anak yang sejak kecil terbiasa mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula, jarang bergerak, serta melihat kebiasaan merokok di lingkungan terdekat dapat tumbuh dengan pola hidup yang sama.
Karena itu, pencegahan PTM bukan hanya persoalan individu. Lingkungan tempat seseorang tinggal, bekerja, makan dan beraktivitas juga ikut menentukan.
Jangan Menunggu Gejala untuk Mulai Peduli
Kesalahan terbesar dalam menghadapi penyakit kronis adalah menunggu tubuh memberikan tanda yang jelas.
Padahal, beberapa penyakit tidak menular dapat berkembang tanpa gejala yang khas dalam waktu lama.
Menjaga pola makan, aktif bergerak, tidak merokok, menjaga berat badan, tidur cukup, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan langkah yang jauh lebih masuk akal daripada menunggu penyakit datang terlebih dahulu.
Pada akhirnya, penyakit tidak menular tidak selalu datang secara tiba-tiba.
Sering kali, risikonya dibangun sedikit demi sedikit melalui kebiasaan yang dilakukan setiap hari.
Yang terlihat sepele hari ini bisa menjadi faktor risiko bertahun-tahun kemudian. Karena itu, menjaga kesehatan bukan menunggu tubuh sakit, tetapi mengenali risikonya sebelum terlambat.


