Fenomena Doom Spending, Belanja Saat Stres yang Diam-Diam Menguras Dompet

Jakarta – Berbelanja sering dianggap sebagai cara sederhana untuk memperbaiki suasana hati. Setelah menjalani hari yang melelahkan, membeli makanan favorit, pakaian baru, atau barang yang sudah lama diincar memang bisa memberikan rasa senang.
Namun, jika belanja mulai dilakukan setiap kali merasa stres, cemas, bosan, atau kecewa, kebiasaan tersebut dapat berubah menjadi pola yang dikenal sebagai “doom spending”.
Istilah ini menggambarkan perilaku mengeluarkan uang secara impulsif sebagai bentuk pelarian dari tekanan atau perasaan negatif. Masalahnya, rasa lega yang muncul setelah berbelanja biasanya hanya berlangsung sementara.
Setelah transaksi selesai, seseorang bisa kembali menghadapi masalah yang sama. Bedanya, kini ada pengeluaran tambahan yang harus dipikirkan.
Fenomena tersebut menjadi semakin mudah terjadi di era belanja digital. Hanya dengan beberapa kali menekan layar, seseorang bisa membeli barang tanpa harus meninggalkan rumah.
Berbagai promo, gratis ongkos kirim, notifikasi diskon, hingga sistem pembayaran yang membuat transaksi terasa ringan juga dapat mendorong keputusan belanja spontan.
Yang dibeli pun tidak selalu merupakan barang mahal. Justru pembelian kecil yang dilakukan berulang kali sering kali tidak terasa ketika transaksi berlangsung.
Seribu rupiah, puluhan ribu rupiah, hingga ratusan ribu rupiah dapat terus keluar sedikit demi sedikit. Pada akhir bulan, jumlahnya bisa menjadi pengeluaran yang cukup besar.
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah munculnya penyesalan setelah berbelanja. Seseorang mungkin merasa senang ketika melakukan transaksi, tetapi kemudian bertanya mengapa barang tersebut dibeli atau mengapa uangnya tidak disimpan.
Tanda lainnya adalah membeli sesuatu bukan karena membutuhkan barang tersebut, melainkan karena sedang ingin mengubah suasana hati.
Bukan berarti setiap aktivitas belanja ketika sedang stres merupakan masalah. Membeli sesuatu yang memang dibutuhkan atau sesekali memberikan hadiah kepada diri sendiri merupakan hal yang wajar.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika belanja menjadi satu-satunya cara untuk menghadapi emosi negatif dan mulai mengganggu kondisi keuangan.
Salah satu cara sederhana untuk menghindarinya adalah memberi jeda sebelum membeli. Barang yang muncul di keranjang belanja tidak harus langsung dibayar.
Memberikan waktu beberapa jam atau bahkan beberapa hari dapat membantu membedakan antara kebutuhan dan keinginan sesaat.
Pada akhirnya, persoalan “doom spending” bukan sekadar tentang terlalu banyak berbelanja. Di balik transaksi tersebut, bisa ada kebutuhan untuk mencari rasa nyaman ketika seseorang sedang menghadapi tekanan.
Karena itu, sebelum menekan tombol “checkout”, ada satu pertanyaan sederhana yang layak diajukan: “Saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau sedang mencoba membeli rasa senang?”

