Buka Cabang ke-10 di Serpong, Sanger Aceh Disiapkan Menjadi Diplomasi Indonesia ke Dunia

TANGERANG — The Atjeh Connection resmi membuka cabang ke-10 di Serpong, Tangerang, Banten, Senin (5/10/2026). Pembukaan ini menjadi tonggak baru bagi jaringan cafe dan restoran yang membawa kuliner Aceh dari ruang-ruang lokal menuju panggung yang lebih luas, termasuk sebagai bagian dari diplomasi kuliner Indonesia di tingkat internasional.

Berlokasi di Ruko Carson Unit RCU 5, Jalan Scientia Boulevard, Kecamatan Pagedangan, Tangerang, cabang Serpong menjadi outlet ke-10 The Atjeh Connection sekaligus memperkuat posisinya sebagai jaringan cafe dan restoran Aceh dengan jumlah cabang terbanyak yang tersebar di sejumlah kota besar Indonesia.

Founder The Atjeh Connection, Amir Faisal, mengatakan pembukaan cabang ke-10 bukan sekadar pencapaian ekspansi bisnis, tetapi bagian dari perjalanan panjang untuk memperkenalkan identitas Aceh melalui kuliner.

“Kami tidak ingin The Atjeh Connection hanya dikenal sebagai tempat makan. Kami ingin setiap orang yang datang membawa pulang cerita tentang Aceh, tentang rasanya, tentang budayanya, dan tentang bagaimana Aceh menjadi bagian penting dari Indonesia,” kata Amir Faisal.

Perjalanan tersebut dimulai dari Jakarta dan kemudian berkembang ke Surabaya, Solo, Yogyakarta, hingga kini Serpong. Ekspansi ini tidak semata-mata berbicara tentang pertumbuhan bisnis, tetapi juga tentang bagaimana identitas dan kekayaan kuliner Aceh dapat diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.

“Sepuluh cabang ini bagi kami bukan garis akhir. Justru ini menjadi titik untuk melihat sejauh mana kuliner Aceh bisa berjalan lebih jauh. Indonesia adalah rumah besarnya, tetapi kami ingin suatu hari kuliner Aceh bisa hadir di berbagai kota dunia,” ujar Amir Faisal.

Kopi Sanger dan Diplomasi Kuliner

Salah satu ikon yang dibawa The Atjeh Connection adalah kopi sanger. Minuman khas Aceh tersebut dikembangkan menjadi sajian yang memiliki karakter rasa tersendiri dan berhasil menarik minat konsumen dari berbagai latar belakang.

Kopi sanger menjadi contoh bagaimana produk kuliner tradisional dapat dikembangkan tanpa kehilangan identitas asalnya. Dari Aceh, sanger kemudian diperkenalkan melalui jaringan restoran di berbagai kota di Indonesia dan menjadi pintu masuk untuk mengenalkan budaya Aceh kepada masyarakat yang lebih luas.

Menurut Amir, kopi sanger memiliki posisi khusus dalam perjalanan The Atjeh Connection karena minuman tersebut bukan sekadar produk, tetapi bagian dari tradisi dan budaya Aceh.

“Kami ingin kopi sanger punya tempat yang lebih besar. Orang mungkin awalnya datang karena penasaran dengan rasanya, tetapi setelah itu mereka mengenal bahwa di balik secangkir sanger ada tradisi ngopi, ada sejarah, dan ada karakter masyarakat Aceh,” katanya.

Ia menilai kekuatan kuliner justru terletak pada kemampuannya membuka percakapan lintas budaya.

“Kita bisa bicara tentang Aceh kepada orang yang belum pernah datang ke Aceh melalui makanan. Dari kopi, kemudian bicara tentang budaya. Dari budaya, orang mulai tertarik dengan sejarah dan masyarakatnya sampai kepada ekonomi dan sosial. Itu yang kami sebut sebagai diplomasi kuliner,” ujar Amir.

Kuliner sebagai Diplomasi Internasional

The Atjeh Connection melihat kuliner bukan hanya sebagai industri makanan dan minuman, tetapi sebagai bagian dari diplomasi budaya.

Dalam sejarahnya, Aceh memiliki hubungan panjang dengan dunia internasional. Letaknya di ujung barat Indonesia menjadikan Aceh salah satu wilayah penting dalam jalur perdagangan dan pertemuan berbagai bangsa sejak berabad-abad lalu.

Warisan sejarah tersebut menjadi modal budaya yang dapat kembali diperkenalkan melalui pendekatan yang lebih kontemporer.

Restoran, kopi dan makanan dapat menjadi ruang pertemuan masyarakat dari berbagai negara. Dari meja makan, seseorang dapat mengenal rasa, cerita, sejarah, tradisi hingga karakter sebuah daerah dan negara.

Karena itu, diplomasi kuliner dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan Aceh dan Indonesia kepada dunia.

Amir Faisal mengatakan, Aceh memiliki kekayaan budaya yang cukup kuat untuk menjadi bagian dari diplomasi Indonesia di tingkat internasional.

“Aceh sejak dulu sudah menjadi bagian dari pergaulan dunia. Kita punya sejarah perdagangan, hubungan dengan berbagai bangsa, dan budaya yang sangat kaya. Sekarang tantangannya adalah bagaimana kekayaan itu kita hadirkan dengan bahasa yang bisa diterima generasi sekarang dan masyarakat internasional,” kata Amir Faisal.

The Atjeh Connection membawa gagasan bahwa Aceh tidak hanya dikenal melalui sejarah dan letak geografisnya, tetapi juga melalui kekayaan kulinernya. Kopi sanger, mie Aceh, ayam tangkap, sie reuboh, kuah belangong, kari kambing, kari ayam, sayur pliek u, ika tumis Aceh, ikan asam keueng, tiram masak Aceh, nasi gurih Aceh, lontong Aceh, martabak telur Aceh, roti cane, roti jala, srikaya, timphan, kue ade, pulot durian dan berbagai hidangan khas lainnya dapat menjadi bagian dari narasi Indonesia ketika diperkenalkan kepada masyarakat internasional.

“Diplomasi tidak selalu dimulai dari ruang konferensi. Bisa dimulai dari meja makan. Ketika orang menikmati kopi sanger atau makanan Aceh, sebenarnya kita sedang membuka pintu percakapan tentang Aceh dan Indonesia,” ujar Amir.

Menurutnya, kuliner memiliki keunggulan karena mampu menciptakan pengalaman langsung.

“Orang bisa membaca buku tentang Aceh, melihat gambar tentang Aceh, atau menonton video tentang Aceh. Tetapi ketika mereka duduk, makan, minum kopi, lalu berbicara dengan orang Aceh, pengalaman itu menjadi berbeda. Ada interaksi langsung. Di situlah diplomasi budaya bekerja secara alami,” katanya.

Dengan pembukaan cabang ke-10 di Serpong, The Atjeh Connection menegaskan visinya untuk terus memperluas jangkauan kuliner Aceh. Indonesia menjadi pijakan awal, sementara panggung internasional menjadi ruang yang ingin dijangkau berikutnya.

10 Cabang The Atjeh Connection

•Bendungan Hilir – Jakarta

•SCBD – Jakarta

•Tebet – Jakarta

•Cipete – Jakarta

•Jalan Sabang – Jakarta

•Neo Sabang – Jakarta

•Jalan Arjuno – Surabaya

•Sumber, Banjarsari – Solo

•Jalan Nyi Tjondrolukito – Yogyakarta

•Jalan Scientia Blvd, Serpong – Banten

Cabang ke-10 di Serpong menjadi simbol bahwa perjalanan kuliner Aceh terus bergerak. Dari Aceh ke Jakarta, Surabaya, Solo, Yogyakarta, dan kini Serpong, The Atjeh Connection ingin membangun jembatan yang lebih jauh, dari Indonesia menuju dunia.

Bagi Amir Faisal, ekspansi tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak cabang yang berhasil dibuka, tetapi tentang seberapa jauh cerita Aceh dan Indonesia dapat dibawa.

“Kami ingin ketika orang di luar Aceh mendengar kata sanger, mie Aceh atau makanan Aceh, mereka punya referensi dan pengalaman. Kalau suatu hari makanan Aceh bisa dinikmati di luar negeri dan menjadi pintu orang mengenal Indonesia, itu akan menjadi pencapaian yang jauh lebih besar daripada sekadar membuka cabang,” kata Amir Faisal.

Sebab bagi Aceh, diplomasi tidak hanya dapat dilakukan melalui politik dan hubungan antarnegara. Sepiring makanan dan secangkir kopi juga dapat menjadi cara untuk memperkenalkan identitas sebuah bangsa dan negara kepada dunia.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button