Kualitas Udara Palangka Raya Tembus AQI 1.100, Kabut Asap Karhutla Jadi Sorotan

JAKARTA – Kualitas udara di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, memburuk dengan indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) mencapai 1.104 berdasarkan angka yang terpantau pada aplikasi IQAir, Sabtu (24/10/2026). Angka tersebut menunjukkan tingkat pencemaran udara yang sangat ekstrem dan berbahaya bagi kesehatan.

Tingginya polusi udara di wilayah tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap kebakaran, terutama dari lahan gambut, dapat melepaskan partikel halus PM2.5 ke udara. Partikel ini berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan maupun penyakit kardiovaskular.

Dalam skala AQI Amerika Serikat yang digunakan IQAir, angka 0–50 tergolong baik, 51–100 sedang, 101–150 tidak sehat bagi kelompok sensitif, 151–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, dan di atas 300 masuk kategori berbahaya. Dengan demikian, AQI 1.104 di Palangka Raya jauh melampaui ambang kategori berbahaya.

Sejumlah wilayah Kalimantan juga mengalami polusi tinggi

Polusi udara tinggi juga terpantau di wilayah lain di Kalimantan. Data IQAir yang terindeks pada Sabtu menunjukkan AQI di Kumai, Kalimantan Tengah, mencapai 1.025. Sementara itu, Pontianak, Kalimantan Barat, mencatat AQI 477.

Angka tersebut mengindikasikan kondisi udara yang perlu diwaspadai. Namun, untuk memastikan sejauh mana karhutla menjadi penyebab utama, diperlukan pencocokan dengan data titik panas, arah angin, dan pemantauan sebaran asap dari instansi terkait.

Karhutla dapat menimbulkan dampak yang meluas ketika asap terbawa angin ke wilayah lain. Kondisi cuaca, termasuk angin lemah dan minimnya hujan, juga dapat menyebabkan polutan bertahan lebih lama di atmosfer.

Kualitas udara Jakarta juga tidak sehat

Kondisi kualitas udara di Jakarta turut menjadi perhatian. Data IQAir pada Sabtu pagi menunjukkan AQI Jakarta berada di angka 152, yang termasuk kategori tidak sehat.

Meski sama-sama mengalami pencemaran udara, sumber polusi di Jakarta tidak dapat langsung disamakan dengan kondisi di Kalimantan. Emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran, dan kondisi meteorologis merupakan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kualitas udara di Ibu Kota.

Karena itu, keterkaitan antara polusi Jakarta dan asap karhutla perlu didukung bukti mengenai arah angin serta pergerakan massa udara, bukan hanya berdasarkan kesamaan waktu terjadinya pencemaran.

Singapura dan Malaysia turut menghadapi persoalan kabut asap

Dampak pencemaran udara regional juga menjadi perhatian di Singapura. Data yang diberitakan Channel NewsAsia pada Sabtu menunjukkan indeks Pollutant Standards Index (PSI) 24 jam berada pada rentang 112–139 di lima wilayah pada pukul 06.00 waktu setempat.

Otoritas Singapura melaporkan adanya pergerakan asap dari Sumatra menuju negara tersebut. Kabut asap juga terdeteksi di Kalimantan dan wilayah sekitarnya. Kondisi ini memperlihatkan bahwa asap kebakaran dapat melintasi batas wilayah dan negara, bergantung pada arah angin serta kondisi atmosfer.

Di Malaysia, kualitas udara juga memburuk di sejumlah lokasi. Kantor berita Bernama melaporkan 21 wilayah mencatat Indeks Pencemaran Udara atau Air Pollutant Index (API) dalam kategori tidak sehat pada pukul 09.00 waktu setempat.

Seremban dan Larkin menjadi wilayah dengan angka tertinggi, masing-masing 169. Sementara itu, Serian di Sarawak mencatat API 154.

Meski demikian, tingginya indeks pencemaran di Singapura dan Malaysia tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh polusi berasal dari karhutla di Kalimantan. Penetapan sumber asap membutuhkan analisis meteorologi dan data pemantauan kebakaran lintas wilayah.

Masyarakat diminta mengurangi aktivitas luar ruangan

Paparan polusi udara pada tingkat tinggi dapat memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan.

Masyarakat di wilayah terdampak disarankan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, menutup jendela ketika kualitas udara memburuk, dan memantau perkembangan indeks kualitas udara melalui sumber resmi. Apabila harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan respirator yang sesuai, seperti N95, dapat membantu mengurangi paparan partikel halus.

Lonjakan polusi udara di Kalimantan serta memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah Asia Tenggara menjadi pengingat pentingnya pengendalian karhutla dan pemantauan asap lintas batas secara berkelanjutan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button