Pelari 24 Tahun Meninggal Saat Maraton New York, Ini Bahaya Rhabdomyolysis

JAKARTA – Kabar meninggalnya seorang pelari berusia 24 tahun saat mengikuti New York City Marathon menjadi perhatian dunia olahraga. Rachel Apa, mantan atlet hoki, dilaporkan ambruk sekitar 3,5 kilometer sebelum garis finis. Penyebab kematiannya berkaitan dengan rhabdomyolysis, kondisi kerusakan otot serius yang dapat mengancam nyawa.

Chief Medical Officer People Inc., Dr Sohaib Imtiaz, menjelaskan rhabdomyolysis terjadi ketika jaringan otot mengalami kerusakan berat sehingga melepaskan kandungannya, termasuk protein mioglobin dan kalium, ke dalam aliran darah.

Kondisi ini dapat merusak ginjal, mengganggu irama jantung, bahkan menyebabkan gagal ginjal akut hingga kematian.

Apa Penyebabnya?

Rhabdomyolysis dapat dipicu beberapa faktor, antara lain:

  1. Olahraga berlebihan, terutama aktivitas fisik berintensitas tinggi dalam waktu lama.
  2. Dehidrasi, akibat kekurangan cairan selama berolahraga.
  3. Suhu panas, yang meningkatkan risiko gangguan akibat panas.
  4. Obat-obatan tertentu yang dapat memicu kerusakan otot.
  5. Faktor genetik, yang membuat seseorang lebih rentan mengalami kerusakan otot.

Kenali Gejalanya

Gejala rhabdomyolysis sering menyerupai kelelahan setelah olahraga. Namun, ada sejumlah tanda yang perlu diwaspadai, seperti nyeri dan pembengkakan otot berlebihan, kelemahan tubuh, mual, serta urine berwarna gelap seperti teh atau cola.

Gejala tersebut bisa muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah aktivitas fisik berat.

Bagaimana Mengatasinya?

Rhabdomyolysis membutuhkan penanganan medis segera. Dokter biasanya melakukan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar enzim creatine kinase (CK) dan memeriksa fungsi ginjal.

Penanganan utama pada kasus sedang hingga berat adalah pemberian cairan melalui infus untuk membantu melindungi ginjal dan mengeluarkan zat sisa kerusakan otot. Pasien juga perlu dipantau untuk mengantisipasi gangguan elektrolit dan irama jantung.

Cara Mencegahnya

Risiko rhabdomyolysis dapat dikurangi dengan meningkatkan intensitas latihan secara bertahap, mencukupi kebutuhan cairan, menghindari olahraga saat sakit, serta memberikan waktu istirahat yang cukup.

Pelari juga perlu menyesuaikan intensitas latihan dengan kondisi cuaca dan kemampuan tubuh.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa rhabdomyolysis tidak hanya mengancam pemula. Atlet maupun pelari berpengalaman tetap berisiko mengalaminya. Karena itu, jangan memaksakan diri mengejar garis finis jika tubuh menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang tidak normal.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button