Ketoprak Ciragil: Sepiring Ketoprak dan Es Podeng di Tengah Teriknya Jakarta

Matahari Jakarta sedang terik-teriknya ketika saya tiba di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jalanan di sekitar Senopati tetap sibuk seperti biasa. Mobil lalu-lalang, suara kendaraan bersahutan, sementara udara siang terasa semakin panas.
Di tengah suasana itu, ada satu tempat yang justru mengundang orang untuk berhenti sejenak: Ketoprak Ciragil.

Namanya sudah lama dikenal. Bukan karena tampilan tempatnya yang mewah, melainkan karena ketoprak yang telah bertahan selama lebih dari enam dekade.
Ketoprak Ciragil disebut mulai berjualan sejak 1961. Artinya, ketika Jakarta masih jauh dari hiruk-pikuk kawasan bisnis seperti sekarang, sepiring ketoprak dari tempat ini sudah lebih dahulu hadir menemani warga.

Kini, lokasinya berada di Jalan Cikatomas II Nomor 3, Kebayoran Baru. Tempat ini merupakan lokasi baru setelah tempat sebelumnya di kawasan Ciragil berpindah. Pada 2024, lokasi lama disebut telah dibongkar dan aktivitas usaha kemudian bergeser ke kawasan permukiman yang tidak jauh dari tempat sebelumnya.
Nama Ciragil tetap dipertahankan.

Mungkin justru di situlah kekuatan sebuah kuliner legendaris. Tempat boleh berubah, lingkungan boleh berganti, tetapi rasa dan nama tetap menjadi penanda.
Siang itu saya memilih duduk dan memesan seporsi ketoprak.

Tidak ada kemewahan yang ditawarkan. Nuansanya tetap sederhana, seperti tempat makan yang memang sejak awal ditujukan untuk orang yang ingin makan, bukan sekadar berfoto. Namun, kesederhanaan itu tidak membuat tempat ini kehilangan daya tarik.

Dalam sejumlah kunjungan, Ketoprak Ciragil dikenal didatangi pekerja kantoran hingga pengunjung yang datang menggunakan mobil. Bahkan pada sore hari pun pergantian pengunjung bisa berlangsung tanpa putus.

Pesanan datang.

Sepiring ketoprak tersaji dengan lontong, tahu, bihun, tauge dan kerupuk, kemudian disiram bumbu kacang. Pilihan telur juga tersedia, mulai dari telur dadar, telur ceplok hingga telur rebus atau telur asin.

Yang langsung terasa berbeda adalah bumbunya.

Bumbu kacangnya lembut dan cukup kental. Ada rasa gurih yang kuat dengan sentuhan manis dan pedas. Sejumlah sumber menyebut penggunaan kacang mede sebagai salah satu karakter yang membuat bumbu Ketoprak Ciragil berbeda dari ketoprak pada umumnya.

Lontongnya juga terasa pulen. Ketika bercampur dengan tahu, bihun dan tauge, teksturnya menjadi kontras: lembut, sedikit renyah, kemudian ditutup sensasi kriuk dari kerupuk.

Untuk seporsi ketoprak tanpa telur, harga yang tercatat pada daftar menu terbaru berada di kisaran Rp25.000. Jika ditambah telur, harganya sekitar Rp31.500, tergantung jenis telur yang dipilih.

Tetapi makan ketoprak di siang yang panas rasanya belum lengkap tanpa sesuatu yang dingin.

Maka, setelah beberapa suapan ketoprak, saya memesan es podeng.

Gelas berisi es podeng itu datang dengan tampilan yang sederhana. Namun justru minuman inilah yang terasa seperti penutup yang tepat. Es puter, sirup, alpukat, ketan hitam dan isian lainnya berpadu menjadi rasa manis dan dingin yang segera mengusir rasa gerah setelah menyantap ketoprak.

Kombinasi ketoprak dan es podeng akhirnya terasa seperti pasangan yang sulit dipisahkan. Satu gurih dan berbumbu. Satu lagi dingin dan manis.

Namun, Ketoprak Ciragil bukan hanya soal ketoprak. Di tempat ini tersedia pula sejumlah menu lain seperti siomay dan bakso. Sumber-sumber kuliner sebelumnya juga mencatat adanya menu lain seperti rujak, es teler dan minuman tradisional lainnya.

Karena itu, tidak sedikit pengunjung yang datang bersama teman atau keluarga kemudian memesan menu berbeda. Ada yang fokus pada ketoprak, ada yang memilih siomay atau bakso, sementara yang lain menutup makan dengan es podeng.

Jam operasionalnya juga relatif panjang untuk ukuran kedai yang mengandalkan menu harian. Berbagai sumber mencatat buka sejak sekitar pukul 08.00–09.00 hingga pukul 17.00.

Namun, seperti banyak kuliner legendaris lainnya, datang terlalu sore bukan tanpa risiko. Jam tutup memang tercatat sekitar pukul 17.00, tetapi ketersediaan makanan bisa menjadi pertimbangan tersendiri ketika pengunjung datang menjelang akhir jam operasional. Karena itu, untuk mendapatkan menu yang diinginkan, waktu makan siang atau datang lebih awal menjadi pilihan yang lebih aman.

Di tengah Jakarta yang terus berubah, keberadaan Ketoprak Ciragil menjadi semacam pengingat bahwa makanan sederhana pun dapat memiliki umur panjang.
Sejak 1961, nama itu bertahan melewati perubahan zaman, perubahan kawasan, bahkan perpindahan tempat.

Yang tersisa bukan sekadar nama Ciragil. Ada sepiring ketoprak dengan bumbu kacang yang khas, lontong yang pulen, tahu, bihun dan tauge. Lalu ada segelas es podeng yang dingin dan manis untuk menutup makan siang.
Dan pada siang Jakarta yang panas, kombinasi sederhana itu terasa cukup untuk membuat kita berhenti sejenak dari kesibukan kota.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button